Tanda Titik
Dia, dia adalah laki-laki yang selalu saya kagumi lewat tatapan mata dan rendah nada suaranya ketika berbicara, mengagumi keindahannya seakan-akan adalah hobi baru, mengungkapkan apa yang saya rasakan setiap hari lewat sajak sederhana, dia merupakan seseorang yang sangat bersemangat dalam
hidup, selalu senang bercerita, hangat, bersahabat, dan sangat menyukai
kesenangan karena jarang sekali membiarkan hatinya bersedih terlalu lama. (12, 02, 2022)
Lagi-lagi saya menceritakan beberapa arsip yang ditulis beberapa bulan lalu, sakit hati terus berlarut-larut sampai pada titik bosan, rasa sayang masih terbentang walau sudah terlupakan, mungkin. Sekarang merasa hampa amat sangat luar biasa, saya tidak bisa lagi menanyakan banyak pertanyaan penting atau sekedar omong kosong yang ditemani angin malam, tidak terhitung berapa banyak air mata jatuh lagi dan lagi dari pelupuk. Meminta kepada Tuhan untuk ketenangan dan kekuatan, saya yakin malam ini tidur tidak akan nyenyak seperti kemarin, mengingat lagi lalu bertanya-tanya pasal kenyataan. Semuanya berjalan begitu cepat padahal sedang dinikmati, menyesal apa yang harus disesali? Semua salah karena harapan besar yang diciptakan sendiri, jatuh sendiri itu resiko yang harus ditangani, bangun dan memulainya dari awal lagi. Menulis judul baru karena cerita kemarin sudah diberi tanda titik.
Selamat, selamat berpetualang ke dunia yang lebih luas dari sebelumnya, di sini saya akan terus mendoakan untuk beberapa hal kebaikan.
Komentar
Posting Komentar